Tuesday, 12 January 2016

#Softskill Psikologi Manajemen Kepuasan Kerja#


Disusun Oleh
Kelompok Anggrek
Kelas : 3 PA 02
Ahmad Dedy S.(10513404)
Aprillia Lentera W.(19513928)
Gipthasari A. P(13513745)
Reynaldo Cesar(17513484)
Siti Aufaa Ni’matin(18513527)
Vanya Anugerahayu(17512549)




UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
2015

JudulPengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kepuasan 
Kerja dan Stres Kerja Pada The Seminyak Beach Resort 
and Spa
JurnalE-Jurnal Manajemen Unud
Volume & HalamanVol. 4, No.10, hal 2955 - 2981  
Tahun: 2015
PenulisNi Luh Putu Nuraningsih dan Made Surya Putra
I.Latar Belakang
  Perkembangan pariwisata di Bali sangat pesat seperti yang terjadi di daerah Kuta. Daerah seminyak mulai banyak dilirik oleh wisatawan karena Seminyak merupakan objek wisata terbuka dan perkembangannya mulai menarik wisatawan untuk berkunjung ke Seminyak. Seminyak sangat cocok bagi wisatawan yang ingin shopping, fine dinning, SPA, private villa, selain itu Seminyak lebih disukai oleh para wisatawan yang mencari tempat menginap lebih private, tempat belanja yang menawarkan barang dagangan yang unik dan kelas atas, tempat perawatan SPA serta restoran mewah (Rentalmobil.net 2014) selanjutnya dijelaskan bahwa industri hotel dan SPA adalah industri yang selalu berhadapan langsung dengan para konsumen, oleh karena itu para karyawan yang berada di industri hotel dan SPA harus memiliki kecerdasan emosional.

The Seminyak Beach Resort And SPA salah satu hotel berbintang lima yang ada di kawasan Seminyak Bali. Perusahaan ini agar mampu bersaing harus benar-benar cermat dalam mengamati sumber daya manusia karena apabila perusahaan memiliki sumber daya yang bermutu maka perusahaan dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Berdasarkan hasil wawancara dengan HRD dan beberapa karyawan di The Seminyak Beach Resort And SPA diperoleh informasi bahwa kepuasan kerja karyawan tergolong rendah. Indikator rendahnya kepuasan kerja dapat dilihat pada sistem pemberian gaji yang tidak sesuai dengan UMR dan kadang tidak sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan. Karyawan merasa ragu dengan kemampuan yang dimilikinya, serta pengawasan dari atasan serta kesempatan untuk maju dan dipromosikan masih sangat kurang. Kurangnya kordinasi antar rekan kerja yang membuat karyawan merasa tidak nyaman dalam bekerja. Indikasi karyawan mengalami stres kerja terbukti pada ketidakdisiplinan karyawan untuk menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Arahan dari atasan minim diberikan sehingga karyawan merasa kebingungan. Tingkat keterlambatan karyawan menunjukkan rasa malas bekerja serta atasanyang memiliki mood (suasana hati yang berubah-ubah) terkadang acuh dan jarang melakukan komunikasi dengan karyawan.
II.Tujuan
Dari uraian latar belakang diatas, maka didapatkan tujuan penelitian ini yaitu:
1. Untuk menguji pengaruh kecerdasan emosional terhadap kepuasan kerja pada The Seminyak Beach Resort and SPA.
2. Untuk menguji pengaruh kepuasan kerja terhadap stres kerja pada The Seminyak Beach Resort and SPA.
3. Untuk menguji pengaruh kecerdasan emosional terhadap stres kerja pada The Seminyak Beach Resort And SPA.
III.Metode
Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh melalui kuesioner, didukung oleh hasil wawancara dan observasi secara langsung dengan responden. Seluruh karyawan The Seminyak Beach Resort and SPA yang berjumlah sebanyak 235 orang adalah populasi dari penelitian ini. Rumus Slovin digunakan untuk menghitung sampel dari populasi yang akan digunakan (Sugiyono, 2013:124) sebagai berikut :
Dimana :

n = Jumlah Sampel

N = Jumlah Populasi

d = ketepatan yang diinginkan sebesar 0,05

Berdasarkan perhitungan rumus Slovin, maka jumlah sampel sebesar 148 orang. Metode penentuan sampel menggunakan simple random sampling. Indikator stres kerja, kepuasan kerja, dan kecerdasan emosional diukur dengan skala Likert (Likert scale) yang terdiri dari 5 butir pertanyaan dengan pilihan“sangat setuju” hingga “sangat tidak setuju”. Uji instrumen dilakukan dengan uji korelasi Pearson yang menghasilkan seluruh nilai r-hitung melebihi nilai r-tabel, uji reliabilitas menggunakan Cronbach Alpha dengan nilai Cronbach Alpha melebihi nilai 0,6 sehingga dapat dinyatakan bahwa istrumen telah valid dan reliabel. Uji instrumen kedua dengan CFA (Confirmatory Factor Analysis) untuk menguji validitas convergent dan discriminant. Hasil uji CFA menunjukkan bahwa semua konstruk memiliki nilai yang valid. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis jalur (path analysis). Data diolah dengan menggunakan SPSS for Windows.

IVHasil
Hasil penelitian yang diperoleh menemukan implikasi yang dapat terjadi yaitu hasil penelitian ini mendukung teori yang digunakan sebagai dasar dalam pembuatan hipotesis, bahwa kecerdasan emosional berpengaruh terhadap kepuasan kerja dan stres kerja. artinya karyawan yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi cenderung memiliki kepuasan kerja yang tinggi dan stres kerja yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa hasil penelitian memperkuat teori yang digunakan. Jawaban responden tentang kecerdasan emosional menunjukkan bahwa kecerdasan emosional yang dirasakan karyawan The Seminyak Beach Resort And SPA tergolong sangat baik. Jawaban responden tentang kepuasan kerja menunjukkan bahwa kepusan kerja yang dirasakan karyawan The Seminyak Beach Resort And SPA tergolong sangat baik. Jawaban responden tentang stres kerja menunjukkan bahwa stres kerja yang dirasakan karyawan The Seminyak Beach Resort And SPA tergolong sangat baik.

Monday, 4 January 2016

#Softskill PSIKOLOGI MANAJEMEN Review Journal Job Enrichment#

         Kelompok Anggrek :

Ahmad Dedy S.          10513404
Aprillia Lentera W.     19513928
Gipthasari A. P          13513745
Reynaldo Cesar          17513484
Siti Aufaa Ni’matin    18513527
Vanya Anugrahayu I   17512549

Kelas : 3 PA 02

Judul         : Pengaruh Job Enrichment terhadap kepuasan kerja, motivasi dan komitmen   organisasi PT Fajar Surya Wisesa  
Jurnal                         : Jurnal Fakultas Ekonomi Unika Atma Jaya
Volume & Halaman  : Volume 16, Nomor 2, Agustus 2012: 93-104
Tahun                         : 2012
Penulis                        : Francisca Hermawan

            I.        Latar Belakang
      Sumber daya manusia merupakan faktor yang terpenting dalam suatu perusahaan, maka sudah semestinya SDM menjadi perhatian bagi perusahaan agar dikelola dengan sebaik mungkin sehingga dapat meningkatkan kebutuhan perusahaan agar lebih responsif, fleksibel, kompetitif dan inovatif. Salah satu caranya adalah mendorong karyawan agar tidak membatasi diri pada apa yang tertulis di deskripsi mereka yaitu dengan melakukan job enrichment.
    Job enrichment merupakan peningkatan tanggung jawab dan kontrol karyawan atas pekerjaannya sehingga dapat memotivasi karyawan tersebut. Seperti kita ketahui bahwa setiap karyawan yang bekerja ditentukan oleh atasan mereka, dan pekerjaannya dirancang sedemikian rupa agar memuaskan dan memberi manfaat bagi semua pihak. Job enrichment mampu membuat pekerja menjadi termotivasi supaya berhasil mencapai kepuasaan kerja dengan kemampuan mereka sendiri.
    Kepuasan kerja adalah suatu pernyataan emosional positif atau menyenangkan yang dihasilkan dari penilaian terhadap suatu pekerjaan atau pengalaman kerja (Luthans, 2006:243). Karyawan yang puas dengan apa yang diperolehnya dari perusahaan akan memberikan lebih dari apa yang diharapkan dan ia akan terus berusaha memperbaiki kinerjanya dan sebaliknya. Kepuasan kerja erat kaitannya dengan apa yang diharapkan karyawan dari pekerjaannya sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan.
    Dalam memotivasi karyawan, seorang manager harus mengerti apa yang dibutuhkan dan yang menjadi tujuan dari setiap karyawan. Sesuai dengan teori motivasi (Ivancevich, Konopaske, Matteson, 2007, p.458), setiap indivudu dibedakan atas apa yang mereka inginkan sebagai penghargaan atas usaha mereka, bagaimana mereka memuaskan atas apa yang mereka inginkan dan bagaimana mereka dapat melihat apa yang manager kerjakan untuk mereka dan lingkungan kerja mereka.                       
    Komitmen organisasi menurut Steers adalah rasa identifikasi (kepercayaan kepada nilai-nilai organisasi), keterlibatan (kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan organisasi) dan loyalitas (keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi yang bersangkutan) yang dinyatakan olaeh pegawai terhadap organisasinya (Steers dalam Sopiah, 2008:152). Karyawan yang memiliki komitmen terhadap perusahaan didukung oleh berbagai alasan yang ada.   
    PT Fajar Surya Wisesa merupakan perusahaan kertas kemasan yang berdiri pada tanggal 13 Juni 1987. Perusahaan ini menghasilkan kertas industri seperti sack kraft, containerboard (liner dan corrugating medium) dan boxboard yang digunakan untuk kemasan produk-produk konsumen dan barang-barang industri.
    Hasil produksi Perusahaan dijual kepada pelanggan dalam negeri dan diekspor ke negara-negara di Asia, Eropa dan Timur Tengah. Persentase penjualan dalam negeri dan ekspor terhadap penjualan neto untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2011 masing-masing sebesar 93% dan 7%. Perusahaan memiliki kapasitas produksi sebesar 1.000.000 ton per tahun.
    PT Fajar Surya Wisesa memiliki karyawan dengan tingkat kepuasan kerja, motivasi dan komitmen organisasi yang tinggi. Akan tetapi, peneliti ingin mengetahui apakah tingginya tingkat kepuasan kerja, motivasi dan komitmen organisasi tersebut dipengaruhi oleh job enrichment atau tidak. Semakin puas, termotivasi dan berkomitmen seorang karyawan maka kinerja akan lebih efisien dan efektif terkait dengan perusahaan melakukan job enrichment dimana karyawan dapat meningkatkan kebebasan, peran dan tanggung jawab dalam pekerjaan mereka.
                                                                           II.             Tujuan
                            Tujuan Di dalam penelitian ini, adalah ingin menganalisis pengaruh job enrichment terhadap kepuasan kerja; motivasi; komitmen organisasi di PT Fajar Surya Wisesa.
                                                                           III.            Metode
                            Data yang digunakan dalam analisis penelitian ini berupa persepsi responden dengan menyebarkan 65 kuesioner pada karyawan di PT Fajar Surya Wisesa. Perhitungan jumlah responden ditentukan menggunakan rumus Slovin. Penelitian ini menggunakan tehnik convenience sampling dimana peneliti memiliki kebebasan untuk memilih siapa saja yang mudah temui dalam perusahaan.

                        Temuan Penelitian
                            Peneliti membutuhkan proses analisis data hasil penelitian untuk menarik suatu kesimpulan dari hipotesis penelitiannya.Instrumen yang digunakan peneliti yaitu skala likert, sehingga dapat dihitung rata-rata indicator job enrichment, kepuasan kerja, motivasi,dan komitmen organisasi.Sedangkan pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji linier sederhana dan uji manova.

 
                        Jenis Kelamin Responden
                            PT Fajar Surya Wisesa menunjukan karyawan laki-laki 58 orang (89.2%) dari total jumlah responden berdasarkan jenis kelamin. Sedangkan keseluruhan responden perempuan hanya 7 orang (10.8%) dari total jumlah responden berdasarkan jenis kelamin.
                        Usia Responden
                            Menunjukan bahwa dominan usia karyawan yang bekerja yaitu berusia 20 tahun sampai dengan 40 tahun sebanyak 24 orang (36.9%), sedangkan karyawan yang berusia lebih dari 50 tahun hanya 2 orang (3.1%)
                        Lama bekerja
                            Jumlah responden dengan lama bekerja 5 sampai dengan 10 tahun adalah sebanyak 29 orang (44.6%), merupakan responden yang lama bekerja tertinggi.
                        Mean Score
                            Menunjukkan job enrichment berada pada kategori netral artinya PT Fajar Surya Wisesa hanya memberi sedikit kesempatan untuk karyawan dalam berfikir dan bertindak secara mandiri.


                                                                           IV             Hasil
                            Besarnya hasil Overall Mean Score job enrichment dapat dilihat bahwa job enrichment pada karyawan di PT Fajar Surya Wisesa memiliki kategori netral karena berada di nilai mean score 3.40 terutama pada dimensi otonomi. Hal ini mungkin disebabkan PT Fajar Surya Wisesa masih memberi sedikit kesempatan untuk karyawan dalam berfikir dan bertindak secara mandiri. R
                                                                        

                                    

Tuesday, 29 December 2015

#Softskill Tugas Psikologi Manajemen # Review Jurnal Motivasi


Kelas : 3 PA 02
Kelompok Anggrek

Ahmad Dedy S.         10513404
Aprillia Lentera W.    19513928
Gipthasari A. P          13513745
Reynaldo Cesar        17513484
Siti Aufaa Ni’matin    18513527
 Vanya Anugrahayu I   17512549

  
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
2015


Judul                     : Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Motivasi Dan Kepuasan Kerja Serta Kinerja Karyawan Pada Sub Sektor Industri Pengolahan Kayu Skala Menengah  Di Jawa Timur.
Jurnal                         : Jurnal Manajemen & Kewirausahaan
Volume & Halaman  : Vol. 7, No. 2, September  2005: 171-188
Tahun                         : 2005
Penulis                        : H.Teman Koesmono

I.                   Latar Belakang
Salah satu masalah nasional yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini adalah penanganan terhadap rendahnya kualitas sumber daya manusia. Jumlah sumber daya manusia yang besar apabila dapat didayagunakan secara efektif dan efisien akan bermanfaat untuk menunjang gerak lajunya pembangunan nasional yang berkelanjutan. Melimpahnya sumber daya manusia yang ada saat ini mengharuskan berfikir secara seksama yaitu bagaimana dapat memanfaatkan sumber daya manusia  secara optimal. Agar di masyarakat tersedia sumber daya manusia yang handal diperlukan pendidikan yang berkualitas, penyediaan berbagai fasilitas sosial, lapangan pekerjaan yang memadai. Kelemahan dalam penyediaan berbagai fasilitas tersebut akan menyebabkan keresahan sosial yang akan berdampak kepada keamanan masyarakat. Saat ini kemampuan sumber daya manusia masih rendah baik dilihat dari kemampuan intelektualnya maupun keterampilan teknis yang dimilikinya. Persoalan yang ada adalah bagaimana dapat menciptakan sumber daya manusia yang dapat menghasilkan kinerja yang optimal sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. Produktivitas kerja merupakan tuntutan utama bagi perusahaan agar kelangsungan hidup atau operasionalnya dapat terjamin. Produktivitas suatu badan usaha dapat memberikan kontribusi kepada pemerintah daerah maupun pusat, artinya dari produktivitas regional maupun nasional, dapat menunjang perekonomian baik secara makro maupun mikro. Mengenai produktivitas kerja menjadi masalah nasional pula, karena produktivitas tenaga kerja Indonesia masih memprihatinkan. Zadjuli (2001 : 6); kualitas sumber daya manusia Indonesia dewasa ini dibandingkan dengan kualitas sumber daya manusia di beberapa negara anggota-anggota ASEAN nampaknya masih rendah kualitasnya, sehingga mengakibatkan produktivitas per jam kerjanya masih rendah (menurut World Development Report, Indonesia pada tahun 2002 produktivitas per pekerja per jam sebesar 1,84 US $ dan yang tertinggi adalah Singapura 35,91 US $, diikuti oleh Malaysia 4,71 US $ dan Thailand 4,56 US $). Banyak hal yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja, untuk itu perusahaan harus berusaha menjamin agar faktor-faktor yang berkaitan dengan produktivitas tenaga kerja dapat dipenuhi secara maksimal. Kualitas sumber daya manusia akan terpenuhi apabila kepuasan kerja sebagai unsur yang berpengaruh terhadap kinerja dapat tercipta dengan sempurna. Membahas kepuasan kerja tidak akan terlepas dengan adanya faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja seseorang. Dalam perusahaan manufacturing, produktivitas individu maupun kelompok sangat mempengaruhi kinerja perusahaan hal ini disebabkan oleh adanya proses pengolahan bahan baku menjadi produk jadi. Mengingat permasalahannya sangat komplek sekali, maka pihak-pihak yang terlibat dalam proses produksi harus cermat dalam mengamati sumber daya yang ada. Banyak hal yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja, sehingga pengusaha harus menjaga factor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja dapat terpenuhi secara maksimal. Persoalan kepuasan kerja akan dapat terlaksana dan terpenuhi apabila beberapa variabel yang mempengarhui mendukung sekali. Variabel yang dimaksud adalah Culture and Motivation.

II.                Tujuan
Tujuan dari penelitian ini untuk memenemukan bagaimana besarnya pengaruh Budaya Organisasi terhadap Motivasi, Kepuasan Kerja dan Kinerja karyawan khususnya karyawan dibagian produksi. Unit analisisnya adalah karyawan produksi pada subsektor industri pengolahan kayu di Jawa Timur.

III.             Metode
Desain Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah yang ada karakteristik masalah yang diteliti dalam penelitian ini dapat dikalsifikasikan sebagai penelitian dengan hipotesis. Peneliti melaksanakan kegiatan penelitian terhadap faktafakta yang terjadi saat ini dari suatu populsi pekerja dari perusahaan pengoahan kayu berskala meneengah. Penelitian ini akan menyajikan sampai sejauh mana pengaruh budaya organisasi terhadap kepuasan kerja dan motivasi serta kinerja karyawan. 

Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan adalah data interval, yang dinyatakan dalam angkaangka mulai dari skala yang terkecil sampai dengan yang terbesar dan mempunyai jarak yang sama antara angka yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan sumber data yang digunakan adalah bersifat primer dengan cara menyebarkan kuisioner kepada responden. 
Identifikasi Variabel
a. Variabel Independent: Budaya organisasi
b. Variabel Dependent: Motivasi, Kepuasan Kerja, Kinerja

Teknik Pengambilan Sampel
Penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quota Sampling karena sudah diketahui jumlah karyawan dari lima perusahaan pengolahan kayu berskala menengah (Sesuai SK Dir BI, No.30/45/Kep/Dir/UK tgl.5 Januari 1997)  dilima kota yaitu Surabaya, Gresik Sidoarjo, Mojokerto dan Pasuruan. Sejumlah 382 orang karyawan pabrik yang dipakai sebagai obyek penelitian. Perusahaan yang dimaksud adalah:
1.      Surabaya : PT.Efrata Indah dengan sampel 69 orang
2.      Gresik: PT.Tulus Tritunggal dengan sampel 78 orang
3.      Sidoarjo: PT.Rimba Prima Nusantara dengan sampel 91 orang
4.      Mojokerto: PT.Wijaya Perkasa Indah dengan sampel 67 orang
5.      Pasuruan: PT.Hasil Alam Indo Indah dengan sampel 77 orang

Alat dan Metode Pengumpulan Data 
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dengan menggunakan alat yaitu kuesioner yang telah disiapkan dimana responden dapat memilih jawaban yang sesuai dengan persepsinya (pertanyaan tertutup). Pengukuran data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah skala likert dengan ukuran sebagai berikut: 1 = Sangat tidak setuju. 2 = Tidak setuju, 3 = Netral, 4 = Setuju, 5 = Sangat setuju.  Teknik Analisis Data Data dianalisis dengan menggunakan SEM (Structural Equation Modeling) program Analysis of Moment Structure (AMOS) Versi 5.0 (Ghozali : 2004) disertai dengan uji kesesuaian model (Goodness of Fit) pada persamaan struktural.


IV.             Hasil

Dari hubungan kausalitas nampak bahwa pengaruh yang terbesar adalah dari motivasi terhadap kepuasan kerja yaitu 1.462 sedangkan urutan lainnya adalah budaya organisasi terhadap motivasi sebesar 0.680 dan motivasi terhadap kinerja sebesar 0.387, budaya organisasi terhadap kinerja sebesar 0,506 dan terhadap kepuasan kerja sebesar 0.183 dan yang terakhir adalah kepuasan kerja terhadap kinerja sebesar 0.003 Dari hasil ini nampak bahwa motivasi merupakan hal yang pokok dalam mempengaruhi kepuasan kerja, pernyataan umum bahwa seseorang akan tercapai kepuasan kerjanya  apabila motivasi yang ada dalam perusahaan sangat mendukung sekali dapat diterima.  

Tuesday, 17 November 2015

#Softskill Psikologi Manajemen

Review Film "Everest" dan 
Analisis Film berikut Kesimpulan



Disusun Oleh
Kelompok Anggrek :

1) Ahmad Dedy S.                 10513404
2) Aprillia Lentera W.            19513928
3) Gipthasari A. P                  13513745
4) Reynaldo Cesar                17513484
5) Siti Aufaa Ni’matin             18513527
6) Vanya Anugrahayu I.        17512549

        Kelas : 3PA02
Universitas Gunadarma
               2015




 Review Film “Everest” 2015
'Everest' menangkap realitas pendakian puncak setinggi 8.848 meter dengan cara yang impresif secara visual, namun karakterisasi dan drama antarmanusia bukanlah kekuatan utamanya.


“The last words belong to the mountain.”
— Anatoli


Meski tak menyebutkan bahwa film ini diangkat dari buku laris Into Thin Air yang ditulis oleh jurnalis Jon Krakauer, Everest mengambil cerita yang sama, yaitu tragedi Mei 1996 yang menewaskan 8 pendaki. Sementara filmnya sendiri memang memfokuskan pada tragedi ini, namun Everest tak pernah menjadi terlalu melodramatis. 

Bagi sebagian orang, ada sensasi yang berbeda ketika berhasil menginjakan kaki di puncak Everest. Gunung yang mempunyai tinggi 8.848 meter diatas permukaan laut ini menjadi salah satu gunung paling berbahaya di dunia. Namun, hal itu tidak mengurungkan beberapa pendaki untuk menghentikan langkah kakinya agar sampai ke puncak gunung Everest.

Film yang diangkat dari kisah perjalanan Rob Hall (Jason Clarke) beserta pendaki lainnya ini terjadi pada tanggal 10 Mei 1996 silam. Curahan hati para pendaki gunung seakan tertuang di film ini. Film ini sangat serat akan pesan perjuangan dalam mencapai tujuan, meski diterpa berbagai masalah selama perjalanan.

Dari segi visual, film Everest terbilang sangat bagus. Penonton akan disuguhkan pemandangan yang mampu membuat takjub semua mata yang melihatnya. Apalagi film produksi Universal Studio ini juga ditampilkan dalam bentuk 3D yang bisa disaksikan di IMAX. Tak pelak sensasi seperti berada di puncak Everest akan didapat penonton kala menyaksikan film.

Dari segi cerita, film Everest tak banyak menceritakan kisah awal dari para pendaki yang menjadi korban keganasan gunung Everest, justru lebih mengangkat cerita dari Adventure Consultans. Sutradara juga lebih memilih menyajikan film secara tidak berlebihan. Apalagi didukung oleh akting para pemain yang sangat natural.


Dari Review diatas dapat dikaitkan dalam Teori Motivasi.                
  1. Definisi Motivasi
Basuki (2008) motif berasal dari bahasa latin movere yang berarti bergerak atau bahasa inggrisnya to move. motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat didalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (driving force).

Walgito (dalam Basuki, 2008) motivasi adalah keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku ke arah tujuan.

Robins dan Judge (2008) motivasi adalah sebagai proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya.

Alport (dalam Feist&feist, 2010) motivasi adalah dorongan yang dirasakan dengan kejadian – kejadian yang terjadi di masa lalu.

Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa. Motivasi adalah kekuatan yang terdapat didalam diri seseorang yang mendorong untuk berbuat sesuatu untuk mencapai tujuannya.


  •  Dalam film Everest ini :

Bahwa para pendaki memiliki motivasi yang lebih untuk menaklukan keganasan gunung everest. Dari teori para tokoh di atas para pendaki everest ini memiliki  kekuatan yang terdapat didalam pribadi setiap orang pendaki sehingga mendorong untuk berbuat sesuatu untuk mencapai tujuannya yaitu puncak gunung everest. 

2.      Teori-teori Motivasi
Basuki (2008) membagi teori-teori motivasi berdasarkan dari tiga stimulus yang timbul, sehingga timbul berbagai teori tentang motivasi seperti:

a. Teori dorongan
Teori dorongan mengatakan bahwa perilaku didorong ke arah tujuan oleh kondisi yang mendesak (driving state) dalam diri orang atau binatang. Bila kondisi dorongan internal itu muncul, individu didesak untuk berprilaku dengan cara yang sedemikian rupa sehingga mengurangi intensitas dari kondisi mendesak tersebut.
  
b. Teori insentif
Teori ini memberi tekanan pada perilaku yang dimotivasi oleh insentif, teori insentif lebih merupakan suatu daya tarik atau rangsangan yang datang dari depan. Hal penting dari teori insentif  adalah bahwa individu mengharapkan kenikmatan dengan mencapai apa yang disebut insentif positif dan menghindari apa yang dikenal sebagai insentif negatif. 

c. Teori proses terbalik (opponent-process theory)
Teori motivasi ini sering terdapat pada orang-orang yang senang menyerempet bahaya untuk mendapatkan kenikmatan setelah bebas dari bahaya itu.

d. Teori level optimal
Dalam teori level optimal orang-orang cenderung mencari motivasi misalnya, orang yang terlalu sibuk akan mengalami stres dan kelelahan, dan selanjutnya akan termotivasi untuk melakukan sesuatu guna mengendorkan ketegangan atau stres itu sampai ke level optimal. Begitu pun orang yang terlalu banyak waktu luang sehingga mengalami kebosanan, dan selanjutnya akan mencari kesibukan sampai ke level optimal.

  

 Kesimpulan 
Dalam teori dorongan motivasi yang dikaitkan dalam film Everest tersebut bahwa dapat disimpulkan :
Dari definisi dan  ke-empat teori diatas kami dapat mengambil 2 teori motivasi yaitu teori dorongan dan teori proses terbalik . Di dalam film everest ini bahwa para pendaki memiliki dorongan yang kuat untuk keluar dalam bahaya alam yang ada di gunung everest seperti badai salju.

Bagaimana mereka para pendaki dapat menghadapi medan digunung everest yang berat di dalam film tersebut bagaimana di perlihatkan para pendaki melewati tangga setapak, melewati tebing-tebing terjal dalam keadaan badai salju dan kondisi cuaca yang ekstrem. Didalam pengertian teori proses terbalik yang dijelaskan diatas kami menyimpulkan di dalam film ini bahwa para pendaki tersebut memiliki sebuah kesenangan untuk menyempret bahaya demi sebuah kesenangan yaitu ingin mendaki gunung everest tersebut


Daftar Pustaka

Basuki, M. A. (2008). Psikologi umum. Jakarta: Universitas Gunadarma
Feist, J, & Feist, J. G. (2010). Teori kepribadian. Jakarta: Mc-Graw-Hill Education and Salemba Empat
Robins, P. S, & Judge, A. T. (2008). Perilaku organisasi organizational Behavior. Jakarta: Salemba Empat